Kamis, 15 Desember 2016

Melahirkan dengan BPJS di RSIA Bunda Aliyah

Catatan sebelum membaca:
Prosedur yg dilakukan ini adalah sebagai peserta BPJS mandiri, bukan dari perusahaan. Kemungkinan ada perbedaan prosedur antara peserta mandiri dan peserta corporate.

Baik mari kita mulai.
Pada bulan April 2016 (tahun ini) istri saya dinyatakan positif hamil dengan usia kehamilan 6 Minggu. Ini sama dengan putri saya yang pertama. Dinyatakan positif pada usia kehamilan 6 Minggu juga... Penting?? Ga juga sih... Hehehe...
Karena kami sekeluarga adalah peserta BPJS, maka disepakatilah pemeriksaan kandungan dengan menggunakan fasilitas BPJS. Lalu apa pemeriksaan yang pertama pakai BPJS? Tidak. Awalnya kami ke klinik dokter tempat putri pertama kami dilahirkan, di daerah Sunter. Untung saat itu kami ada dana yg cukup lumayan. Kali tidak, bingung mo bayarnya. Kenapa saya katakan begitu? Karena saya sudah tidak bekerja di perusahaan. Hanya mengandalkan penghasilan dari Uber Motor. Biaya pemeriksaan kehamilan kedua saat itu adalah Rp 500.000,-. Cukup besar buat saya saat ini. Karena pertimbangan biaya, maka kami memutuskan menggunakan fasilitas BPJS. 
Oh ya, mengapa saya menggunakan kata "kami"? Karena ini adalah kesepakatan bersama. Artinya suami istri harus sepakat, kali ga sepakat pasti cekcok yg ada. Oke, saya lanjutkan kembali.
Sebulan kemudian, kami ke Puskesmas kelurahan untuk pemeriksaan kedua, tepatnya di kel Cakung barat. Kenapa di puskesmas kelurahan? Karena Puskesmas itu yg paling dekat dengan rumah kami. Dan harapan saya, istri bisa melahirkan secara normal. Pada kelahiran putri pertama kami, dengan SC. Hal yang pertama dilakukan adalah pasti mendaftar dulu donk. Ini mutlak, klo ga nti diomelin karena menyalip antrian... Hehe....
Setelah bertemu dengan bidan di Puskesmas, baru dari sana istri saya diminta untuk pemeriksaan gigi dan pemeriksaan darah. Tinggi badan dan berat badan. Pemeriksaan gigi, darah dan tinggi badan hanya sekali. Yg berulang adalah berat badan, untuk mengetahui perkembangan bayi dlm rahim juga. Yg perlu diperhatikan, pemeriksaan gigi bisa di Puskesmas kelihatan. Tp pemeriksaan darah harus di Puskesmas kecamatan, untuk kasus saya di kecamatan Cakung. Bisa di tempat lain selain Puskesmas kecamatan, tapi itu bayar. Kalo di Puskesmas kecamatan gratis, Krn pakai BPJS. Setelah ada hasil cek darah, baru kembali lagi ke Puskesmas kelurahan.
Apakah harus ke Puskesmas kelurahan? Apa ga bisa langsung ke Puskesmas kecamatan? Ya ga harus ke kelurahan, bisa juga langsung ke kecamatan. Tergantung mana yang dekat rumah. Untuk kasus saya, Puskesmas kelurahan adalah yg paling dekat.
Setelah cek darah dan cek gigi selesai, maka pemeriksaan kehamilan pun baru dimulai. Pemeriksaan ini rutin harus dilakukan minimal 1 bulan sekali, atau mengikuti instruksi dari bidan di Puskesmas.
Masuk di bulan keempat dan kelima, saya mulai dirasuki rasa cemas. Kenapa? Karena saya kuatir, kalo ada apa2 dengan jabang bayi saat lahir gimana. Sedangkan proses aktivasi BPJS adalah 2 Minggu setelah pembayaran pertama. Akhirnya saya coba browsing di internet bagaimana cara pendaftaran BPJS calon bayi. Ternyata ada loh. Ini buktinya langsung dari websitenya http://bpjsonline.com/cara-daftar-bpjs-untuk-bayi-dalam-kandungan/. Silahkan dibuka, buat yang males (hehehe) saya beri persyaratan n prosedurnya. Ini dia
Sebagai tambahan, disertakan juga foto hasil USG, jenis kelamin calon bayi, dan bagi peserta kelas 1/2 lampirkan buku tabungan. Ini penampakannya
Dalam kasus saya, pendaftaran saya lakukan pada usia kehamilan 7 bulan. Prosesnya gampang dan cepat, hanya satu hari langsung beres. Tapi persyaratan harus lengkap. Setelah proses pendaftaran selesai, maka akan mendapat no virtual account untuk pembayaran pertama. Bukti pembayaran pertama jgn sampai hilang ya. Krn saat pencetakan kartu, harus dilampirkan. Berikut penampakan no virtual account dan petunjuk pembayarannya.

Nah lanjut lagi... 
Memasuki usia kehamilan tujuh bulan, bidan di Puskesmas akan memberikan surat rujukan untuk pemeriksaan ke RS atau Puskesmas yang ada fasilitas untuk melahirkan. Yang perlu diketahui adalah agar bisa melahirkan secara SC untuk anak pertama, kondisi sang ibu yg memang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Artinya ada diagnosa dari bidan bahwa sang ibu tidak bisa normal. Kalo melahirkan secara normal, maka akan dirujuk ke Puskesmas yg fasilitasnya lengkap. Tapi kalau jika anak pertama lahir secara SC, maka yg kedua dst harus secara SC juga. Sebab bidan di Puskesmas mengantisipasi jika ada kejadian yg disebabkan dari bekas SC yg pertama. Jika anak pertama lahir normal, maka yg kedua dst ada kemungkinan untuk normal. Kenapa saya bilang kemungkinan? Sebab tidak bisa dijamin 100%. Mungkin saja ada hal2 yg menyebabkan kelahiran secara SC. Yg perlu diperhatikan adalah yg merujuk ke RS harus berdasarkan diagnosa bidan, bukan kemauan kita sendiri. Jika memaksa, maka biaya melahirkan tidak ditanggung oleh BPJS.
Karena anak kami yang pertama secara SC, maka yg keduapun jadi harus secara SC juga. Padahal saya berharap bisa normal. Tp pihak Puskesmas tidak menganjurkan. Ya sudahlah, toh ditanggung semua oleh BPJS. Hehehe...
Setelah meriset kesana kesini, akhirnya diputuskanlah untuk dirujuk ke RSIA Bunda Aliyah. Karena RS ini masih masuk dalam faskes lanjutan untuk area Jakarta timur dan juga RS ini khusus untuk ibu dan anak. Untuk fakses lanjutan bisa cek di website https://www.bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/m/?module=profile&id=14. Selain itu dari beberapa blog yang saya baca, RS ini cukup bagus pelayanannya, walaupun terbilang kecil. Ada 3 dokter yang direkomendasikan di beberapa blog tersebut, yaitu dr. Sarah Alatas, Dr. Alesia Novita, dan Dr. Siti. Khusus Dr. Siti, beliau bisa usg 4D. Tp usg ini tdk ditanggung BPJS ya....
Pada usia kehamilan 8 bulan, mulailah kami melakukan pemeriksaan di RSIA Bunda Aliyah. Karena ada beberapa dokter yang praktik pada hari itu (saat itu kami datang di hari Sabtu), saya h2c untuk bisa dapatkan dokter yang direferensikan oleh beberapa blogger. Sebab peserta BPJS di kunjungan pertama tidak bisa memilih dokter. Di hari itu ada dua dokter rekomendasi dan beberapa dokter yg lain baik itu ce atau co. Klo saya sebisa mungkin ingin dapat dokter ce, walo bukan yg favoritlah. Namun ternyata kami beruntung, bisa mendapatkan Dr. Alesia Novita, SpOG.
Yg harus dibawa untuk pemeriksaan di RS adalah, surat rujukan dari faskes 1 + copy 2 lbr, copy ktp ibu 2 lbr, copy kartu BPJS ibu 2 lbr. kalo bisa copy-nya agak banyakan untuk jaga2. Ohya, pada kunjungan yg pertama sebisa mungkin meminta kepada dokter yg memeriksa agar mengisi lembar surat rujukan untuk bisa berlaku selama beberapa bulan, agar tidak bolak balik ke Puskesmas untuk mendapat rujukan baru. Surat rujukan berlaku minimal 1 bulan dari tgl surat dibuat.
Pada awalnya, kelahiran diputuskan pada tgl 25 November. Namun urung dilakukan karena pada pemeriksaan terakhir sang dokter tidak praktik. Baru pada tgl 23 November praktik kembali. Pada pemeriksaan yg terakhir ini diputuskanlah tgl 1 Desember untuk istri melahirkan secara SC.
Pada hari H-nya, mulailah proses kelahiran. Nah beberapa dokumen yang harus dibawa adalah surat rekomendasi melahirkan dari dokter, copy ktp ibu 2 lbr, copy kartu BPJS ibu 2 lbr. Copy lbh banyak juga gapapa, buat juga2. Nantinya ada beberapa prosedur yg harus dilakukan dan dokumen yang harus ditandatangani. Agak banyak sh, tapi gapapa jalani aja. Nah untuk kamar, ini yang agak ribet. Disinilah saya agak kecewa sedikit. Pada tgl 1 Desember, kami datang dan memeriksa, tnt tidak ada kamar yg kosong untuk kelas 1 (kami sekeluarga adalah peserta BPJS kelas 1). Akhirnya kami memilih kamar kelas 2 untuk sementara.
Akhirnya pada jam 14.30, istri saya masuk ruang operasi. Dan pada jam 15.59, buah hati tercinta sudah lahir dengan sehat, lengkap dan cantik. Dengan berat 2960 gr dan panjang 49 cm. Dan kami beri nama Elyonna Shanna Kurniawan.
Istri saya baru dipindahkan ke kamar perawatan 1-2 jam kemudian. Nanti perawat RS akan memberikan 1 lbr form untuk diisi. Form itu yg akan menjadi dasar pembuatan surat keterangan lahir dan surat keterangan rawat inap. 2 surat itu yg nantikan harus kita lampirkan untuk pencetakan kartu BPJS anak yg baru lahir. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas.
Yg membuat saya sedikit kecewa di RSIA Bunda Aliyah adalah kamar kelas 1 yg harusnya istri saya tempati baru didapat pada malam terakhir. Selama 2 malam sebelumnya berada di kelas 2. Ditambah lagi, pada hari terakhir bayi kami tidak bisa ikut pulang karena harus diobservasi lebih lanjut. Sebab hasil pemeriksaan terakhir menunjukan tingkat bilirubin bayi kami mencapai 11,5. Dikuatirkan akan terus meningkat melebih batas aman yaitu 12. Dengan berat hati, akhirnya bayi kami harus menginap 1 malam lagi untuk disinar.  Dan biayanya adalah sebesar 4 juta rupiah. Tp berhubung bayi kami sudah didaftarkan ke BPJS, jadi tidak bayar. Fiuh... Bisa napas lega.
Berhubung hari itu adalah hari Minggu, maka saya minta dispensasi untuk bisa mencetak kartu BPJS dan menyerahkan pada hari Seninnya. Karena kan kantor BPJS ga ada yg buka hari Sabtu dan Minggu. Untungnya diperbolehkan oleh pihak RS, jadi aman... Senin paginya saya langsung urus ke kantor BPJS terdekat, dan membawa ke RS. Untungnya lagi, ternyata bayi kami bisa keluar RS pada hari Senin itu juga.
Nah itulah cerita pengalaman kami melakukan pemeriksaan kehamilan istri, proses kelahiran, sampai perawatan lanjutan bayi karena tingkat bilirubin yg cukup tinggi.
Sekedar tips dari saya:
1. Rajin2 bertanya ke pihak faskes 1 maupun RS terkait dokumen yg diperlukan.
2. Jika di RS tidak mendapat fasilitas yg seharusnya (kamar), harus sering mengecek ke bagian admin RS. Kalo ga, sampai keluar dari RS, tidak mendapat fasilitas yg seharusnya.
Maaf klo kepanjangan ceritanya... Hehehe...

Minggu, 12 Juni 2016

Hati yang melayani - Steve Tabalujan

Matius 20:26-28
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah dia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah dia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”

1. Melayani itu adalah Privilege.
Barangsiapa ingin menjadi besar…, kalimat ini memberi indikasi Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki ambisi untuk menjadi besar, memiliki keinginan menjadi orang yang "besar" di dalam pelayanan Tuhan. But if you want to be great, jadilah hamba dengan contoh melayani.
Melayani Tuhan itu berarti sesuatu hak khusus yang Tuhan beri kepada setiap kita. Kenapa? Sebab Kristus di sini menaruh prinsip pelayan, murid-murid menjadi hamba bukan sebagai sesuatu yang Dia paksa inginkan tetapi Dia sendiri telah memberi contoh.
Waktu Dia menebus hidup kita, Dia memberikan semua keagungan, kebesaran, dan kemulianNya buat kita.Tidak ada orang yang menjadi besar tanpa dia memberikan contoh terlebih dahulu menjadi pelayan di dalam melayani. Itulah sebabnya ‘to serve is a privilege.
2. Melayani itu Anugerah.
Dalam kitab 2 Korintus 4:1 bagi saya ini adalah salah satu prinsip pelayanan yang penting dari rasul Paulus yang mengatakan, “This is by grace of God, this is by His kindness to me…" Saya bisa ambil bagian di dalam pelayanan karena ini adalah anugerah kebaikan dari Tuhan, saya terima dengan hati bersyukur.
Dalam Bahasa Indonesia nya, "Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati"
Bukan saja kita harus setia dalam melayani Tuhan, tetapi Tuhan juga mau kita untuk berani.
Dalam kitab Bilangan pasal 13, "Aku akan memberikan tanah perjanjian itu kepadamu tetapi engkau harus maju berperang untuk mendapatkannya." Tanah perjanjian yang diberi Tuhan itu adalah anugerah. Kalau Tuhan tidak memberikannya, kita tidak bisa mendapatkannya. Tetapi bisakah itu datang kepada kita seperti satu hadiah jatuh dari langit?
Kita tidak boleh abaikan prinsip ini: bahwa segala sesuatu yang datang ke dalam hidup kita itu datangnya sebagai berkat dan anugerah dari Tuhan.
Setiap kali anugerah itu datang, dia selalu datang bersamaan dengan respons yang berani.

  • Menerima pelayanan Tuhan itu sebagai kepercayaan, jangan terima dengan pasrah.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah dan berkat Tuhan, jangan terima secara terpaksa.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah Tuhan, jangan terima dengan malas.
  • Menerima pelayanan sebagai berkat  Tuhan yang datang ke dalam hidupmu jangan terima sebagai sesuatu yang begitu saja datang.
Kalau anugerah Tuhan datang kepadamu, jangan terima dengan pasif dan pasrah. Tuhan tuntut respons dan reaksi dari sisi kita. Karena kemurahan Allah saya terima pelayanan ini dan saya terima dengan spirit berani.
3. Melayani itu harus tuntas, jangan setengah-setengah!!
Galatia 6:9
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah.”
To serve until goal’s happening di dalam hidup kita. Memulai sesuatu itu gampang, tetapi konsisten berada di dalam perjalanan itu bukan hal yang gampang. Hati kita gampang jatuh bangun, kemudian kecewa, pudar, tawar, hal itu lumrah di dalam hidup kita. Tetapi di tengah-tengah seperti itu kita tidak boleh mengabaikan hal ini.
Tetapi setiap kita melayani Tuhan, tidak boleh tidak harus berani jalan terus & maju.
Mazmur 126:5-6,
“Orang yang menabur benih sambil mencucurkan air mata pasti pulang dengan sorak sorai membawa berkas-berkasnya.”
Berjalan maju dengan air mata tetap tabur benih, pasti pulang membawa berkas-berkasnya. Banyak orang mau tabur benih, mau lekas-lekas dapat berkas-berkasnya tetapi tidak mau dua hal ini: berjalan maju (menabur benih) dan dengan air mata.
Setiap kita melayani, kita punya goal. Kita harap ingin terus maju. Pelayanan tetap harus berjalan. Kalaupun belum tercapai tetap hati kita harus selalu ada goal.
4. Melayani itu jangan pernah melihat ke belakang.
Kitab Filipi 3:13 “Aku mengejar apa yang di depan…” Prinsip pelayanan yang penting, kita tidak boleh berhenti untuk hanya kagum atas apa yang kita capai di masa-masa yang lampau. Kita harus terus berjalan, kita sadar pekerjaan Tuhan masih belum selesai, masih belum lengkap, masih banyak yang bisa kita kerjakan. Tidak bisa kesuksesan masa lalu itu menjadi penghalang di dalam pelayanan setiap kita. Melayani dengan tidak melihat apa yang kita sudah kerjakan itu  sempurna. Tidak juga merasa apa yang sudah kita capai menjadi sesuatu kebanggaan dan kesuksesan kita.
5. Melayani itu harus dengan menikmati kepuasan tersendiri di dalamnya.
Kisah Para Rasul 20:35 kalimat Tuhan Yesus, “Adalah lebih berbahagia orang yang memberi daripada menerima.”
2 Korintus 8:1-15, Paulus bicara mengenai pelayanan jemaat di Makedonia. Ini menjadi prinsip pelayanan mereka: ‘find a kind of satisfaction in serving others than to be served.
Bukan soal melayani atau tidak melayani, tetapi pada waktu kita melayani temukanlah satu kepuasan di dalamnya. Itu akan membuat pelayanan kita lebih stabil, lebih konsisten seumur hidup kita.
Ada kerelaan hati, ada sukacita, ada cinta yang muncul sehingga waktu kita mengerjakannya kita bisa menikmati keindahan di dalamnya.
Pelayanan itu ditopang dengan hati yang generous.
6. Melayani dengan Murah Hati.
Lukas 6:36
“Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati.”
Memberikan hospitality. Konsep ini penting sekali karena ini salah satu yang Tuhan mau ada di dalam hati kita,  sebab ada tertulis dalam
Ibrani 13:2
“Janganlah kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang yang tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.
Orang lain berbeda dengan saudara sendiri. Orang lain berbeda dengan jemaat sendiri. Orang lain berbeda dengan anggota gereja sendiri.
Kita gampang melayani ‘sesama’ tetapi sulit buat ‘others.’
Sesama berarti kadang-kadang mungkin dituntut adanya "hukum timbal balik", tapi kalau othersberarti kita memberi dan jangan berharap mendapat balasan karena mungkin dia hanya orang asing yang numpang lewat saja. Dalam hal inilah menurut saya, konsep hospitality ini muncul.
Kalau kita sebagai anak-anak Tuhan hanya berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita, melayani kepada orang yang sudah melayanimu, memberi kepada orang yang sudah memberi kepadamu, itu tidak berbeda jauh dengan orang yang tidak percaya Tuhan.
Mulai jadikan hari-hari kita memberi untuk orang lain dan hari-hari yang lain menjadi hari milikmu. Jadikan ada hari di dalam hidupmu, waktu di dalam hidupmu, bagian di dalam hidupmu bagi orang lain. Artinya, itu memang keluar dari hidup kita dengan tidak menuntut balas kembali.
Kalau kita datang ke gereja dengan pikiran, ‘apa yang bisa saya dapat, apa yang bisa kita dapat?’ kita akan kehilangan aspek hospitality ini.
Biar masing-masing dari kita semakin mempunyai "Hati yang Melayani."
Sumber: www.Penyembah.com

Mempraktikkan hadirat Tuhan

Bincang santai bersama Israel Houghton

Setelah sukses yang mencolok dengan dua persembahan studio yang mengumpulkan Grammy berturut-turut 2 kali bagi Israel sebagai artis solo (Best Pop / Contemporary Gospel Album 2009, 2010), ia kembali dengan New Breed, dan bersama-sama mereka kembali ke akar mereka dengan mereka pada Agustus 2012 dengan merilis “Jesus at the Center”. Persembahan baru berupa rekaman secara langsung yang direkam bersama komunitas kediaman Houghton di Gereja Lakewood di Houston, Texas, di mana dia menjabat sebagai pemimpin pujian dan penyembahan. Dan alasan semua ini menjadi relevan jika ada seorang pemimpin tunggal yang memahami pentingnya keunggulan dalam memimpin pelayanan ibadah sekaligus memastikan kuasa dari kehadiran Roh Kudus dinyatakan, dialah Israel Houghton.
"Kami selalu mendengar pemimpin pujian dan penyembahan mengatakan, ‘Kita berada di sini bukan untuk melakukan pertunjukkan, kita berada di sini hanya untuk menyembah.’” Demikianlah Houghton memulai. "Yah Anda bisa melakukannya di rumah. Melihatlah ke sekeliling, ada sejumlah besar orang di sini yang memiliki sesuatu kesamaan. Mereka mencari inspirasi. Mereka mencari seseorang untuk mengantar mereka ke hati Yesus. Anda memiliki peran untuk bermain. ... Dan saya menyadari kita harus melewati suatu tempat dimana hanya ada tentang musik di sana. Pada akhirnya, ini harus benar-benar menjadi tentang membawa orang-orang ke tempat di mana mereka mengatakan, 'Wow. Saya mendengar suara Tuhan sekarang. Saya merasakan kekuatan yang tidak saya rasakan ketika saya tiba di sini. '"
Menghibur Kami?
Melakukan pertunjukkan berarti "untuk menyajikan (bentuk hiburan) kepada penonton." Jadi mungkin kami memiliki beberapa masalah dengan kata "hiburan." Namun, hiburan adalah bagian dari banyak pelayanan. Jika pendeta Anda tidak menghibur Anda, Anda hanya akan mendengarkan dalam lima menit pertama dari khotbahnya. Tentu saja hal-hal ini sifatnya bervariasi. Jika semua yang dia lakukan selama 45 menit adalah menghibur jemaat, maka kita akan memiliki masalah.
"Ada saat-saat lain ketika produksi menjadi sangat menakjubkan dan dramatis, yang mana Anda dapat melihat adanya inspirasi di dalamnya. Tapi kadang-kadang dalam melakukan pertunjukkan, pendekatan yang paling sederhana, yang dikupas ke bawah, yang diskalakan kebawah, mungkin menjadi yang terbaik. Di gereja saya, salah satu hal yang kita lakukan sebagai sebuah tim adalah memeriksa upaya yang kita lakukan dalam ibadah Paskah. Untuk akhir pekan Paskah kita menuangkan upaya besar dalam bagaimana lagu akan terstruktur, bagaimana kami akan membawakan hal itu, kita merencanakan hal yang akan kita lakukan dengan drum besar ini. Apapun itu. Saya bertanya kepada tim kami, "Bagaimana jika kita melakukan hal seperti ini setiap minggu?" Hanya melakukan hal seperti ini dengan maksimal setiap minggu? Setiap beberapa bulan di Lakewood, saya harus mengingatkan tim kami sebagaimana saya mengingatkan diri saya juga: kita tidak berada di sini karena kita adalah musisi terbaik yang dapat mereka temukan, kita berada di sini karena Allah mengatur hal itu. Hanya ada 52 hari Minggu dalam setahun. Anda memiliki 52 peluang dengan jemaat yang Allah percayakan untuk Anda memimpin tiap tahun.
Jangan Menyakiti
Intinya dalam hal ini adalah menghindari pertunjukkan justru memberikkan dampak buruk daripada dampak yang baik. Houghton menjelaskan, "Dari sudut pandang saya, pertunjukkan yang buruk adalah ketika seseorang sedang memimpin dan mereka mungkin juga memiliki tanda yang mengatakan, 'Lihatlah aku. Aku akan mengesankan Anda.’ Itulah yang saya sebut sebagai pujian dan penyembahan yang timpang. Sedangkan pujian dan penyembahan yang sehat, yang saya minta dari tim saya baik di Lakewood dan dengan New Breed, memahami bahwa kita berada di sini untuk cara sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri dan kita secara agresif mengejar itu saat ini.
"Itulah mengapa pertunjukkan adalah sebuah kata yang sulit bahkan untuk saat ini. Karena saya ingin menjadi bagian dari yang menginspirasi Anda untuk menyembah Allah, dan saya tahu bahwa beberapa inspirasi datang berasal dari kesempurnaan. Saya tidak bodoh, saya memahami bagian tersebut. Tetapi bukannya mengandalkan Yesus, contoh cara memimpin yang keliru adalah bergantung pada kemampuan, pada talenta. Hal ini pada intinya telah sampai pada titik dimana kita mencoba menyenangkan orang-orang melalui talenta kita. 
Kualitas Kinerja
Jadi hal apakah yang termasuk dalam sebuah pertunjukkan pujian dan penyembahan yang baik? Untuk Houghton, ada banyak naluri yang terlibat dan latihan jangka panjang yang mencakup musik, tetapi jauh melampaui itu. "Saya sudah membidangi hal ini selama 22 tahun sebagai pelayan penuh waktu," kata Houghton. "Dan jika ada suatu rumusan, saya merasa sedikit senang karena saya tidak mengetahui akan hal tersebut. Apakah itu masuk akal? Saya cenderung untuk membaca sebuah ruangan, membaca sebuah suasana - tentu berlatih dengan lagu dan tahu apa yang akan kita nyanyikan dan apa yang akan kita lakukan - tapi saya tidak pernah menggantung topi saya pada hal itu. Saya selalu mencari saat itu. Selalu bertanya, "Tuhan, bagaimana Engkau ingin melakukan hal ini?"
"Dan dari segi musik Pastor Joel benar-benar menyukai ketika saya membawanya ke tempat yang tak terduga. Tapi tahukah Anda, kita memiliki bagian sangkakala secara keseluruhan. Saya tidak dapat melakukannya kecuali kita benar-benar mempraktekkan kehadiran Allah secara bersama-sama. Jadi aku akan menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang tersebut. Saya akan menghabiskan waktu untuk membuat mereka yakin bahwa mereka tahu seluk-dan-beluk lagu. Dan setelah memimpin dengan mereka selama 11 tahun, mereka tahu bahwa jika saya mengangkat kaki kanan saya, dan saya bahkan tidak menyadari ketika mengangkat kaki kanan saya, mereka tahu itu berarti, 'Oke saya pikir dia akan melakukan chorus lagi.’ Tetapi kami telah belajar satu sama lain dari waktu ke waktu. Kita tidak bisa melakukan itu tanpa menghabiskan waktu bersama-sama secara nyata di balik layar. "
Tolok Ukur
Pada akhirnya, Houghton percaya dalam hal latihan. Ini adalah aspek yang paling penting dari pertunjukkan dalam ibadah. Dan dengan mempraktekkannya, kita berarti berlatih kehadiran Allah. Tanpa Roh Allah sebagai kekuatan pendorong untuk musik kami dan kepemimpinan kami, musik yang dimainkan pada ibadah hanya menjadi sebuah pertunjukkan belaka. Kita harus memastikan bahwa waktu kita melakukannya diterjemahkan menjadi sebuah kepemimpinan dalam pujian dan penyembahan.
Houghton menjelaskan, "Jangan membuat hari Minggu ini pertama kali Anda membuka telinga Anda untuk suara Allah sepanjang minggu. Pastikan ada kehidupan penyembahan abadi yang terjadi. Anda pernah mendengar pernyataan, "Anda tidak dapat membawa orang-orang ke suatu tempat dimana Anda tidak pernah pergi." Jadi harus ada waktu-waktu sepanjang minggu di mana Anda terhubung dengan Tuhan-mungkin berdoa atas daftar lagu Anda. Kuncinya adalah memastikan koneksi tetap jelas sepanjang minggu. Anda melatih tentang kehadiran Allah."
Pada akhirnya ini adalah pelajaran terbesar dari pemenang empat kali penghargaan Grammy di bidang pujian dan penyembahan yang dapat bagikan bersama dengan kami: kehadiran Allah adalah apa yang membuat pertunjukkan pujian dan penyembahan yang baik. Bahkan, kehadiran Allah adalah satu-satunya yang mengangkat sebuah pertunjukkan pujian dan penyembahan kepada kepemimpinan pujian dan penyembahan. Hal ini menjadi lebih dari hanya sekedar pertunjukkan belaka.
Sumber: www.WorshipLeader.com
Terjemahan : www.penyembah.com

Kamis, 09 April 2015

Pembunuh Berusia 19 Tahun Itu Merindukan Ayahnya

Kategori: love bites

Para ayah, kembalilah ke rumah…

TADI malam, kulihat siaran televisi, membahas peristiwa yang belakangan ini ramai dibicarakan orang yakni pembunuhan seorang remaja berusia 19 tahun oleh mantan pacar dan kekasih baru sang mantan yang ironisnya juga teman sesekolah saat SMA.

Itu perbuatan jahat, kata ibu Elly Risman, psikolog yang diundang sebagai narasumber dalam siaran televisi tersebut. Itu bukan lagi kenakalan remaja. Itu jahat. Dengan prihatin, harus kukatakan bahwa aku menyepakati apa yang dikatakan ibu Elly. Apa yang terjadi, bukan lagi nakal, tapi jahat.

Anak remaja, memang sering bertingkah nakal dan lucu. Usianya yang berada di antara anak-anak dan dewasa memang membuat mereka seperti itu. Tapi meminta seseorang yang dikenal untuk menemui lalu disetrum, disumpal mulutnya, sampai akhirnya meninggal, dan bahkan setelah itu kemudian sempat- sempatnya menjual HP sang korban untuk kemudian dibelikan aki mobil sang pembunuh yang ngadat, sungguh diluar nalar.

Beberapa analisa dari psikolog lain serta ahli kriminologi mengatakan bahwa sepasang kekasih itu mungkin tadinya tak bermaksud membunuh ( dan semata hanya ingin ‘memberi pelajaran’ ). Tapi tetap saja, itu diluar nalar. Logika yang lurus akan tahu bahwa setiap tindakan akan ada konsekwensinya. Nurani yang bersih akan tahu, menyiksa dan menyakiti orang lain itu tidak bisa dibenarkan.

Dan ini..menyetrum, dengan alat. Menyumpal mulut dengan kertas koran. Ah, tengoklah kebanyakan mobil. Jangankan alat setrum, bahkan kertas koranpun tak selalu ada di dalam mobil, bukan? Maka hal itu memang jelas sengaja disiapkan. Lalu juga, bagaimana saat mereka bicara — merencanakan — soal hendak memperdaya, menyetrum dan menyumpal mulut korbannya sepasang kekasih itu tidak memikirkan konsekwensinya? Memangnya mereka tidak tahu bahwa itu bisa berujung pada cedera berat atau kematian? Ada yang salah dengan pola pikir dan hati kedua orang itu.

Dan aku menyetujui apa yang dikatakan ibu Elly Risman: tengoklah kembali ke rumah, lihatlah bagaimana cara kedua anak itu diasuh dan dibesarkan. Besar kemungkinan, di situlah bolongnya.
Ibu Elly mengutip apa yang diceritakan oleh ibu sang korban yang berkata bahwa si lelaki mantan pacar yang kemudian membunuh anaknya dulu pernah bercerita padanya tentang apa keinginan terpendamnya. Tentang betapa dia ingin dipeluk oleh ayahnya, dipuji, dihargai. Betapa dia ingin ayahnya mengatakan bagaimana bangga sang ayah pada dirinya.

Intinya, dia adalah anak yang rupanya tak tercukupi kebutuhannya akan kasih sayang dari orang tuanya, terutama dari ayahnya. Hal yang menyebabkan kekosongan dalam jiwanya. Dan terjadilah semua itu. Bisa jadi, halnya kompleks. Ada masalah- masalah lain selain kurangnya kasih sayang sang ayah. Tapi jika ditilik dari ceritanya, hal tersebut memegang peranan besar dalam kekosongan jiwanya.

***

Selama beberapa tahun belakangan, dalam berbagai kesempatan aku beberapa kali pernah mengikuti presentasi dan diskusi yang diadakan oleh ibu Elly Risman secara live untuk beragam topik, dan aku ingat apa yang beliau katakan dalam salah satu sesinya.
” Para ayah, kembalilah ke rumah. “
Begitu yang ditekankan Ibu Elly suatu hari saat melakukan presentasi.

Saat itu kami sedang berada di suatu daerah dimana kebiasaan para lelaki di daerah itu secara budaya adalah berkumpul di warung kopi. Dan di situlah kudengar ibu Elly menyentil kebiasaan itu. Berapa banyak waktu yang dihabiskan para lelaki dan ayah pada petang dan malam hari di warung kopi itu, yang sebenarnya akan sangat berharga jika digunakan untuk melewatkan waktu bersama anak-anaknya di rumah.

Saat mendengar apa yang dikatakan ibu Elly ketika itu, terbayang olehku apa yang terjadi di banyak kota besar sebagai padanannya: bercengkrama di coffee shop, clubbing, atau apapun namanya, sepulang kantor. Ada banyak gerai kopi modern yang harga secangkir kopinya sungguh aduhai yang biasa dikunjungi oleh banyak orang seusai jam kerja.

Sekalian nunggu macet, alasan yang diberikan. Yang well…ada benar dan ada tidaknya. Jam pulang kantor, jalanan memang macet, tapi bagaimanapun, seseorang toh akan lebih cepat juga sampai di rumah jika dia langsung pulang seusai kantor daripada duduk- duduk dulu satu-dua jam di gerai kopi.

***

Kembali pada apa yang pernah kudengar dari sesi presentasi ibu Elly beberapa tahun yang lalu itu, sebenarnya waktu yang dibutuhkan untuk menjaga hubungan uang sehat antara ayah dan anak tidaklah banyak. Tiga puluh menit per hari. Itu yang dikatakan ibu Elly. Maka menjadi jelaslah bagiku kenapa ibu Elly menyentil kebiasaan mampir ke warung kopi di daerah dimana kami sedang berada itu.

Sebab orang biasanya ada di warung kopi lebih dari tiga puluh menit. Tapi lalu tiba di rumah larut malam dan tak lagi sempat menyisihkan waktu yang ‘tiga puluh menit saja’ bagi anaknya. Padahal, adalah penting bagi para ayah untuk menjalin komunikasi dengan anak-anaknya. Baik dengan anak lelaki maupun perempuan. Sebab ada hal- hal yang hanya para ayahlah yang bisa menyampaikan dengan baik pada anak-anaknya, lebih baik dari sang ibu.

Misalnya, pembicaraan tentang mimpi basah dengan anak-anak lelaki remaja, dan apa yang perlu dilakukan setelah itu (bagi pemeluk keyakinan tertentu: mandi, misalnya). Juga, para ayah perlu bicara terhadap anak perempuannya, menunjukkan sikap lelaki seperti apa yang baik dan tidak, misalnya, yang akan membantu sang anak kelak dapat memilih dengan baik pasangan hidupnya. Atau…tentang apapun juga. Ada 1001 macam hal yang bisa dibicarakan ayah dengan anaknya.

Para ayah, memang tak selalu bisa ada setiap detik, setiap menit dalam hidup anaknya secara fisik. Ada banyak hal lain yang juga perlu dilakukan dalam hidup olehnya. Tapi, dia perlu hadir di dalam diri anaknya, di dalam jiwa anaknya. Dan agar hal tersebut terjadi, mau tak mau, sang ayah harus meluangkan waktu untuk ada bersama anaknya setiap hari.

Maka…

Para ayah, mari kembali ke rumah demi masa depan anak- anak.
Tiga puluh menit saja…

Minggu, 29 Maret 2015

Fedofilia... penyakit atau kelainan?

Fedofilia.... Penyakit atau kelainan?
Gw ga pernah kepikir kenapa hal seperti itu. Waktu sekolah n di gereja, gw selalu diajarkan, bahwa kita hidup itu bukan cuma untuk kita  hari ini, tapi juga untuk anak cucu kita. Tapi bisa kebayang kan apa jadinya, kalo ternyata apa yang kita lakukan itu justu menghancurkan masa depan anak cucu kita.
Markus 10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.&
Udah jelaskan kalo anak kecil itu adalah kesayangan Allah. Ayat ini sangat jelas berkata demikian. Terus kq masih aja ada orang yang mo hancurin kehidupan anak kecil, padahal dy tau kalo hancurin masa depan anak kecil itu sangat berat hukumannya. Markus 9:42 &Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut&. Jelas banget kan.
Gw baca berita beberapa hari kemarin, bikin gw syok abis. Ga pernah kebayang banget. Alhasil, sekarang gw malah jadi was was ma anak gw yang sekarang udh mulai besar, walo baru mo 3 tahun bulan depan. Sampe-sampe sekarang gw jadi males kalo anak gw minta ditemenin pipis ato mandi... Gw sadar kalo gw ini bapak nya yang ga mungkin melakukan hal yang segila itu, tapi tetep aja karena anak gw itu cewek. Dan gw juga tau apa yang kita lakukan terhadap anak kita sekarang itu mempengaruhi masa depannya juga.
Itu adalah tulisan gw setahun kemarin yang belum selesai dibuat. Dan ternyata sampai dengan hari ini perkembangan kasus tersebut masih belum terlihat jelas. Walopun sebenarnya kasus itu sudah masuk dalam persidangan. Ternyata kasus fedofilia ini tidak hanya mengincar anak-anak kecil di sekolah, namun juga kalangan artis cilik yang memiliki manager bukan orang tua sendiri. Kenapa gw katakan orang tua, bukan keluarga? Karena keluarga pun ada kecenderungan menjadi pelakunya, walopun orang tua juga bisa saja. Intinya, yang menjadi pelaku fedofilia biasanya adalah orang terdekat dari si korban.
Fakta bahwa artispun bisa menjadi korban berdasarkan pemberitaan di media massa. Ada seorang artis cilik bernama T**** (sori, nama korban gw edit ya), menjadi korban pelecehan seksual bahkan perampokan yang dilakukan oleh managernya sendiri. Ini membuktikan apa yang gw sampaikan sebelumnya adalah benar. Siapa sih T****? Mungkin ada yang tanya. Itu loh penyanyi cilik yang terkenal dengan lagu &... aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang. Dulu aku ditendang sekarang disayang. Dulu ku menderita,   sekarang ku bahagia...&. Tau donk siapa orangnya.
Tapi gw ga mo bahas tentang koban ini, cuma mo bahas tentang fenomenanya aja. Ga lebih dan ga  kurang (hehehe....). Gw mo nambahin dikit ayat lainnya, yaitu Lukas 18:16 &Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata:Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah...&. Ayat ini mengatakan bahwa orang yang membawa anak& kepada Tuhan adalah yg mempunyai kerajaan Allah. Berarti orang yang merusak anak& adalah empunya kerajaan iblis alias penghuni neraka.
So, melalui tulisan ini gw mo mengingatkan. Buat lo yang mempunyai anak masih kecil (kayak gw...) ataupun yang memiliki keponakan, adek (pokoknya yang masih kecil, lucu n menggemaskan), harus lebih care/perhatian terhadap lingkungan di sekitar mereka. Kenapa? Karena para pemangsa itu selalu saja mengintai orang yang kita sayangi itu. Mereka (para pemangsa) ada dimana& di sekitar kita, yang dengan leluasanya mengicar.
Hal yang harus kita perhatian juga adalah perubahan sikap dari anak, adik, keponakan, sepupu, dll. Apakah yang biasanya riang, tiba-tiba menjadi pendiam dan pemurung, bahkan menjadi tertutup. Ada juga yang menjadi lebih sensitif dan emosional. Jika ada perubahan seperti itu, wajib diperiksa. Apakah ada kejadian yang dialaminya sehingga berubah seperti itu. Dan jika terbukti telah terjadi atau mengalami, kalian harus segera mengkonsultasikan kepada pihak yang berwenang, apakah itu komnas anak, psikiater, guru agama (pembimbing agama di tempat ibadah) atau yang lainnya, sebelum laporkan ke kepolisian. Hal ini untuk membantu psikologis anak ketika menceritakan hal tersebut.
Jadi kalau ditanya fedofilia itu penyakit ato kelainan? Menurut gw, itu adalah kelainan jiwa yang harus diwaspadai. Kalo penyakit bisa sembuh, tapi kalo kelainan susah untuk diobati. Karena cenderung para pelaku akan kembali ke habitat asal jika tidak mendapatkan perhatian khusus. Sekian untuk saat ini. Buat nulis ini aja butuh 1 tahun... hehehe... Gapapalah, yang penting akhirnya jadi juga. Oke deh. See u next time, jangan lupa komen ya buat perbaikan. Maklum masih newbie... ^_^

Kamis, 19 Maret 2015

Kisah dibalik seorang pemerkosa

Di suatu Koran Itali, munculah berita pencarian orang yang istimewa di Wayeli (nama sebuah kota di Italia, ) seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit hitam. Beberapa bulan kemudian, sang wanita yang diperkosa melahirkan seorang bayi perempuan berkulit hitam.


Ia dan suaminya terpaksa menanggung tanggung jawab untuk memelihara anak ini. Sayangnya, sang bayi tersebut menderita leukemia (kanker darah), dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera untuk keselamatan nyawanya.


Ayah kandungnya ( Si Pemerkosa) merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya dan wanita yang diperkosa lelaki hitam tersebut berkata "Demi anak Aku bersiap berlapang dada memaafkannya bila ia bersedia muncul menyelamatkannya" .


Disemua Media massa, ditulis agar pelaku bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth. Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya. Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani muncul ?


Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar, Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika ia tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni.


Kisah ini akan berakhir bagaimanakah?
Seorang anak perempuan yang menderita leukimia ternyata menyimpan suatu kisah yang memalukan di suatu perkampungan Itali. Martha, 35 tahun, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang.


Ia dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi diantara kedua anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik perhatian setiap orang di sekitar mereka untuk bertanya, Martha hanya tersenyum kecil berkata pada mereka bahwa nenek berkulit hitam, dan kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan seperti ini.


Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami demam tinggi. Terakhir, Dr. Adely memvonis Monika menderita leukimia. Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang yang paling cocok untuknya.


Dokter menjelaskan lebih lanjut. Diantara mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan pedonor tercocok. Diharapkan seluruh anggota keluarga kalian berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang.

Seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini berakhir. (suratkabar Roma) Komentar dengan topik : Orang hitam itu akan munculkah?


Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita sekarang menilainya Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari ini?


Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan. Kotak surat dan telepon Dr. Adely bagaikan meledak saja, kebanjiran surat masuk dan telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan padanya.


Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap.

Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporakporandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia seorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki lembaran tergelam merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu.


Ia adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorangpun menyangka, Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan.

Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak ia masih muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang begitu pandai dan cekatan, berharap dirinya sendiri bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari orang lain.


Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskriminasikannya. Tak peduli segiat apapun dirinya, selalu memukul dan memakinya. 17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang kerja lebih awal merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, ditengah kesibukan ia memecahkan sebuah piring.


Sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran. Ditengah kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih.


Malam berhujan lebat, tiada seorangpun lewat, dan di parkiran ia bertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, ia pun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini.


Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu juga Ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju Napulese, meninggalkan kota ini.Di Napulese, ia bertemu keberuntungannya.


Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan menikahkannya dengan anak perempuan merka, Lina, dan pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka.


Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas, tak hanya memajukan bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu.


Dimata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Tapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya.


Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan tentram. Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorangpun.


Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Sedikitpun ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malangitu mengandung anaknya, bahkan menanggung tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya.

Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi Telepon Dr. Adely. Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, iatelah menutupnya kembali.


Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya ini, anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik.


Juga akan kehilangan penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan dengan ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun. Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha.


Sang istri, Lina berkata : “Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian”.


Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan: Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu? Sedikitpun aku tak akan memaafkannya!!!

Sampai sini, Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya : “Baiklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau memperbaiki kesalahannya.


Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Dimatanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras itu, dan bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita itu.


Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri : “Aku ini sebenarnya orang baik, atau orang jahat?”


Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri. Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk meloloskan dirinya.


Pagi hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah : “Selamat pagi, manager!” Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa dirinya hampir menjadi gila saja rasanya.

Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi terus diam saja, iapun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang : “Aku ingin mengetahui keadaan anak malang itu. Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr. Adely menambahkan kalimat terakhirnya berkata :”Entah apa ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya.


Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu perasaan hangat sebagai sang ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri! Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika.


Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini. Malam hari itu juga, ia pun mengobarkan keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala rahasianya.


Terakhir ia berkata : “Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika Aku harus menyelamatkannya Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak marah : ”Kau PEMBOHONG!”

3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely.8 Februari, pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika.


Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani memunculkan dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu. Segalanya berlangsung dalam keheningan.


Demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung Monika telah ditemukan.Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini.


Mereka terus-menerus menelepon, menulis suratpada Dr. Adely, memohon untuk dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat : “Barangkali ia pernah melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan!” 10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu muka langsung dengan Ajili.


Awalnya Ajili tak berani untuk menemui mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun menyetujui hal ini. 18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung dengan Ajili.


19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika Sang dokter berkata dengan antusias :
“Ini suatu keajaiban!”


22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika boleh keluar RS dengan sehat walafiat.


Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr. Adely datang kerumah mereka untuk merayakannya. Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr. Adely membawa suratnya bagi mereka.

Dalam suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya berkata :”Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian.


Bila kalian menghadapi kesulitan bagaimanapun, harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian”. Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk menebus dosa.


Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di saparuh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku!